Bahasa Indonesia kami terbaca seperti terjemahan — jadi kami buat aturan
Kami membangun dalam dua bahasa — Inggris di /, Bahasa Indonesia di /id. Keduanya semestinya
setara: bukan yang utama dan terjemahannya, melainkan dua suara yang sama-sama kelas satu. Sempat
tidak begitu. Versi Inggrisnya terbaca seperti ditulis orang; versi Indonesianya terbaca seperti mesin
yang disuruh menulis. Tiap katanya benar. Rasanya yang meleset.
Jurang itu — kata benar, rasa salah — adalah inti masalah copy hasil terjemahan. Pembeli Indonesia yang skeptis menangkapnya dalam satu kalimat, dan "terbaca seperti terjemahan" diam-diam berkata ini sebenarnya bukan untuk Anda.
Seperti apa "terjemahan" itu sebenarnya
Jarang soal kata yang salah. Lebih sering kebiasaan Inggris yang memakai kosakata Indonesia.
Terbaca seperti terjemahan
- AI Implementasi — urutan ala Inggris, penjelas di depan
- menggerbangi deploy — kata benda Inggris dipaksa jadi kata kerja bikinan
- mengirim AI — "ship" diterjemahkan jadi kirim paket
- menggelar karpet merah — idiom Inggris, kata per kata
Terbaca seperti ditulis
- Implementasi AI — kata inti di depan (Hukum D-M)
- harus lolos gate sebelum deploy — pertahankan
gate, pakai kata kerja sungguhan - merilis AI — kata yang benar-benar dipakai developer untuk "ship"
- membuka pintu lebar-lebar — maknanya, bukan metaforanya
Cara kami memperbaikinya — tanpa menulis ulang semuanya
Naluri pertama adalah menerjemahkan ulang seluruh situs. Kami tidak. Dua langkah membuatnya murah dan aman.
Pertama, satu buku aturan. Kami menuliskan aturannya — makna di atas kata, kata inti di depan,
istilah mana yang tetap Inggris (RAG, pipeline, deploy) dan mana yang diterjemahkan (keamanan,
keandalan) — agar "natural" tak lagi soal selera.
Kedua, pindai dulu sebelum menulis ulang. Kami menjalankan pemeriksaan read-only pada tiap kalimat Indonesia lebih dulu, menilai tiap berkas, dan membiarkan temuan — bukan firasat — yang menentukan apa yang disentuh.
Langkah terakhir: putuskan sekali. "Gate" sempat ditulis dalam empat bentuk bikinan yang berbeda di seluruh situs; kami memilih satu bentuk yang natural dan menuliskannya ke glosarium istilah, agar orang berikutnya tak menciptakannya lagi.
Terjemahkan maknanya, bukan kata-katanya.
Aturan yang akhirnya melekat
Do
- Bacakan dengan suara keras — apakah rekan dwibahasa akan mengatakannya begini?
- Pertahankan istilah Inggris yang memang dipakai developer; terjemahkan konsep bila ada padanan wajar
- Bandingkan dengan terjemahan mesin, lalu kalahkan
- Pilih satu bentuk untuk tiap istilah berulang dan gunakan terus
Don't
- Membawa urutan kata Inggris ke Bahasa Indonesia
- Mengubah kata benda Inggris jadi kata kerja bikinan agar terdengar teknis
- Menerjemahkan idiom kata per kata — buang saja atau cari padanan lokalnya
- Mengira "lebih banyak kata" berarti "lebih natural" — justru ringkaskan
Bahasa kedua belum selesai saat ia akurat. Ia selesai saat pembaca asli lupa bahwa ia pernah jadi yang kedua.
Ambil prompt-nya
Kalau delapan aturan sulit diingat, ini panduannya yang diringkas jadi satu prompt — tempel di atas model mana pun, atau pasang di atas pekerjaan menulis Anda. Sesuai aturannya sendiri, blok kode tak diterjemahkan — jadi versinya satu, dalam bahasa Inggris:
🇮🇩 Bahasa Indonesia — write it natural, not translated (sneak peek)
You're writing Bahasa Indonesia for a technical brand (Rigorous · Confident ·
Technical). Goal: copy that reads like a native Indonesian engineer wrote it —
NOT English run through a translator.
THE ONE RULE
• Translate the meaning, not the words. Read it aloud — would a bilingual
colleague actually say it this way? If it sounds stiff, it's wrong.
THE RULES THAT MATTER MOST
1. Head-noun first (Hukum D-M): "Implementasi AI", never "AI Implementasi".
2. Beat the machine: take an MT draft as a baseline, then rewrite it natural —
never ship the literal version.
3. Keep English a dev keeps (RAG, LLM, prompt, pipeline, deploy, crawler, gate);
translate the concepts (implementasi, keamanan, keandalan, observabilitas).
4. Register: "Anda" (never "kamu"), "kami" not "kita"; confident, not
officialese, not slang.
5. Real affixes (meng-/di-/ke-…-an), never bare roots — and never coin verbs from
English nouns: "menggerbangi deploy" ✗ → "harus lolos gate sebelum deploy" ✓
6. No literal idioms — localise or drop them
("menggelar karpet merah" ✗ → "membuka pintu lebar-lebar" ✓).
7. Tighten — Indonesian rewards economy ("untuk", not "dalam rangka untuk").
8. Never translate code blocks — identifiers, commands, config, file paths stay
verbatim. Translate the prose about the code, not the code.
Before you ship: read aloud · head-noun-first · terms kept/translated right ·
Anda + kami · proper affixes · no literal idioms · no MT bloat · code untouched.
📖 Full guide:
https://github.com/harryosmar/pangaea.id/blob/main/docs/bahasa-style-guide.md
Sources