Journey
Catatani18nbahasacraft

Bahasa Indonesia kami terbaca seperti terjemahan — jadi kami buat aturan

Kami membangun dalam dua bahasa — Inggris di /, Bahasa Indonesia di /id. Keduanya semestinya setara: bukan yang utama dan terjemahannya, melainkan dua suara yang sama-sama kelas satu. Sempat tidak begitu. Versi Inggrisnya terbaca seperti ditulis orang; versi Indonesianya terbaca seperti mesin yang disuruh menulis. Tiap katanya benar. Rasanya yang meleset.

Jurang itu — kata benar, rasa salah — adalah inti masalah copy hasil terjemahan. Pembeli Indonesia yang skeptis menangkapnya dalam satu kalimat, dan "terbaca seperti terjemahan" diam-diam berkata ini sebenarnya bukan untuk Anda.

Seperti apa "terjemahan" itu sebenarnya

Jarang soal kata yang salah. Lebih sering kebiasaan Inggris yang memakai kosakata Indonesia.

Terbaca seperti terjemahan

  • AI Implementasi — urutan ala Inggris, penjelas di depan
  • menggerbangi deploy — kata benda Inggris dipaksa jadi kata kerja bikinan
  • mengirim AI — "ship" diterjemahkan jadi kirim paket
  • menggelar karpet merah — idiom Inggris, kata per kata

Terbaca seperti ditulis

  • Implementasi AI — kata inti di depan (Hukum D-M)
  • harus lolos gate sebelum deploy — pertahankan gate, pakai kata kerja sungguhan
  • merilis AI — kata yang benar-benar dipakai developer untuk "ship"
  • membuka pintu lebar-lebar — maknanya, bukan metaforanya

Cara kami memperbaikinya — tanpa menulis ulang semuanya

Naluri pertama adalah menerjemahkan ulang seluruh situs. Kami tidak. Dua langkah membuatnya murah dan aman.

Pertama, satu buku aturan. Kami menuliskan aturannya — makna di atas kata, kata inti di depan, istilah mana yang tetap Inggris (RAG, pipeline, deploy) dan mana yang diterjemahkan (keamanan, keandalan) — agar "natural" tak lagi soal selera.

Kedua, pindai dulu sebelum menulis ulang. Kami menjalankan pemeriksaan read-only pada tiap kalimat Indonesia lebih dulu, menilai tiap berkas, dan membiarkan temuan — bukan firasat — yang menentukan apa yang disentuh.

Langkah terakhir: putuskan sekali. "Gate" sempat ditulis dalam empat bentuk bikinan yang berbeda di seluruh situs; kami memilih satu bentuk yang natural dan menuliskannya ke glosarium istilah, agar orang berikutnya tak menciptakannya lagi.

Terjemahkan maknanya, bukan kata-katanya.

aturan yang menjadi dasar semuanya

Aturan yang akhirnya melekat

Do

  • Bacakan dengan suara keras — apakah rekan dwibahasa akan mengatakannya begini?
  • Pertahankan istilah Inggris yang memang dipakai developer; terjemahkan konsep bila ada padanan wajar
  • Bandingkan dengan terjemahan mesin, lalu kalahkan
  • Pilih satu bentuk untuk tiap istilah berulang dan gunakan terus

Don't

  • Membawa urutan kata Inggris ke Bahasa Indonesia
  • Mengubah kata benda Inggris jadi kata kerja bikinan agar terdengar teknis
  • Menerjemahkan idiom kata per kata — buang saja atau cari padanan lokalnya
  • Mengira "lebih banyak kata" berarti "lebih natural" — justru ringkaskan

Bahasa kedua belum selesai saat ia akurat. Ia selesai saat pembaca asli lupa bahwa ia pernah jadi yang kedua.

Ambil prompt-nya

Kalau delapan aturan sulit diingat, ini panduannya yang diringkas jadi satu prompt — tempel di atas model mana pun, atau pasang di atas pekerjaan menulis Anda. Sesuai aturannya sendiri, blok kode tak diterjemahkan — jadi versinya satu, dalam bahasa Inggris:

🇮🇩 Bahasa Indonesia — write it natural, not translated (sneak peek)

You're writing Bahasa Indonesia for a technical brand (Rigorous · Confident ·
Technical). Goal: copy that reads like a native Indonesian engineer wrote it —
NOT English run through a translator.

THE ONE RULE
• Translate the meaning, not the words. Read it aloud — would a bilingual
  colleague actually say it this way? If it sounds stiff, it's wrong.

THE RULES THAT MATTER MOST
1. Head-noun first (Hukum D-M): "Implementasi AI", never "AI Implementasi".
2. Beat the machine: take an MT draft as a baseline, then rewrite it natural —
   never ship the literal version.
3. Keep English a dev keeps (RAG, LLM, prompt, pipeline, deploy, crawler, gate);
   translate the concepts (implementasi, keamanan, keandalan, observabilitas).
4. Register: "Anda" (never "kamu"), "kami" not "kita"; confident, not
   officialese, not slang.
5. Real affixes (meng-/di-/ke-…-an), never bare roots — and never coin verbs from
   English nouns:  "menggerbangi deploy" ✗  →  "harus lolos gate sebelum deploy" ✓
6. No literal idioms — localise or drop them
   ("menggelar karpet merah" ✗ → "membuka pintu lebar-lebar" ✓).
7. Tighten — Indonesian rewards economy ("untuk", not "dalam rangka untuk").
8. Never translate code blocks — identifiers, commands, config, file paths stay
   verbatim. Translate the prose about the code, not the code.

Before you ship: read aloud · head-noun-first · terms kept/translated right ·
Anda + kami · proper affixes · no literal idioms · no MT bloat · code untouched.

📖 Full guide:
https://github.com/harryosmar/pangaea.id/blob/main/docs/bahasa-style-guide.md

Sources

  1. PR #83 — pass naturalness
  2. Panduan gaya Bahasa